Friday, May 27, 2016

mengatasi rasa rindu


               Tidak bisa disangkal manusia akan selalu bersentuhan dengan cinta. karena kita manusia emang dasarnya diciptakan dihiasi dengan syahwat, Sementara kecintaan memberikan buah kerinduan, rasa kangen terhadap orang yang kita cintai. 
                Kerinduan, adalah sebuah kesengsaraan. Penyakit yang membekaskan kelemahan di hati. Lantas apa dong cara untuk mengatasi penyakit yang menggerogoti jiwa ini ? simak dengan baik.

1. Ikhlas kepada Allah


Ikhlas adalah obat termanjur penyakit rindu. Kalau kamu benar-benar ikhlas kepada Allah, maka Allah akan menolongmu dari penyakit kerinduan dengan cara yang tak pernah terbetik di hati kita sebelumnya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, "Sungguh jika hati telah merasakan manisnya ibadah kepada Allah dan ikhlas kepada-Nya, niscaya ia tidak akan menjumpai hal lain yang lebih manis, lebih indah, lebih nikmat dan lebih baik daripada Allah. Manusia tidak akan meninggalkan sesuatu yang dicintainya, melainkan setelah memperoleh kekasih lain yang lebih dicintainya. Atau karena adanya sesuatu yang ditakutkannya. Cinta yang buruk akan bisa dihilangkan dengan cinta yang baik. Atau takut sesuatu yang membahayakannya"
Ketika pemuda ikhlas kepada Allah, maka Allah akan memilihnya, menghidupkan hatinya. Di saat itulah segala kekejian akan berpaling darinya dan dia sangat takut untuk mencari pengganti selain Allah. Keadaannya berbeda dengan hati yang tak ikhlas. Hati tersebut akan selalu diombang-ambingkan nafsu, keinginan, tuntutan serta cinta yang memabukkan. Keadaannya tidak berbeda dengan sepotong ranting yang meliuk kesana kemari mengikuti arah angin.

2. Berdo'a 
Do'a mengandung sikap kefakiran serta kerendahdirian seseorang di hadapan Allah. Oleh karena itu, doa merupakan salah satu bentuk ibadah yang agung. Ketika seseorang berada dalam kesempitan dan dia bersungguh-sungguh dalam berdoa, merasakan kebutuhannya kepada Allah niscaya Allah akan mengabulkan doanya. Termasuk diantaranya dia memohon untuk dilepaskan dari kesulitan penyakit rindu dan kasmaran yang terasa mengkoyak-koyak hatinya. Penyakit yang menyebabkan dirinya gundah gulana, sedih dan sengsara.

3. Memenej pandangan 
Pandangan yang berulang-ulang adalah pemantik terbesar yang menyalakan api hingga terbakarlah hati dengan kerinduan. Orang yang memandang dengan sepintas saja jarang yang mendapatkan rasa kasmaran. Namun pandangan yang berulang-ulanglah yang merupakan biang kehancuran.
Ibnul Qayyim menyatakan, "Orang yang berakal jangan sampai terlalu mudah tergelincir jatuh hati dan rindu agar tidak tertimpa berbagai kerusakan yang ditimbulkannya, baik sedikit maupun banyak. Barangsiapa yang menerjunkan diri kedalamnya maka ia termasuk orang yang menzalimi diri sendiri yang tertipu dan binasa. Andai saja bukan karena pandangan yang berkali-kali terhadap orang yang dikagumi dan usahanya untuk dapat merajut benang-benang asmara, pastilah asmara tidak akan kokoh mencengkeram jiwanya."
Ibnu Taimiyah berkata, " Allah menjadikan menjaga pandangan dan kemaluan sebagai sebab terkuat untuk mensucikan jiwa. Dan konsekuensi dari menjaga jiwa adalah dengan menghilangkan segala bentuk kejahatan, perbuatan keji, kezaliman, syirik, dusta, dan sebagainya.

4. Selalu sibuk dan aktif 
Dalam situasi kosong kegiatan, biasanya seseorang lebih mudah untuk berangan memikirkan orang yang dia cintai. Dalam keadaan sibuk luar biasa berbagai pikiran tersebut mudah untuk lenyap begitu saja. Oleh karena itu, untuk memangkas kerinduan seseorang hendaknya menyibukkan diri dengan hal-hal yang bermanfaat baik untuk dunia maupun untuk akhirat. Hakikat dari rasa rindu adalah kesibukan hati yang kosong. Di kala sepi sendiri, tanpa aktifitas muncullah bayangan sang kekasih, wajah, gerak-gerik, dan segala yang berkaitan dengannya. Seluruhnya hanya sekadar bayangan dan khayalan yang berakhir dengan kesedihan diri. Tiada manfaatnya sedikitpun bagi kehidupan kita.

5. Menghindari nyanyian dan film percintaan 
Nyanyian dan film-film percintaan memilika andil besar untuk mengobarkan kerinduan pada orang yang dicintai. Apalagi jika, nyanyian tersebut dikemas dengan mengharu-biru, mendayu-dayu tentu akan menggetarkan hati orang yang sedang ditimpa kerinduan. Akibatnya rasa rindu kepadanya semakin memuncak, berbagai angan-angan yang menyimpang pun terbetik dalam hati dan pikiran. Bila demikian, sudah layak jika nyanyian dan tontonan seperti ini dan secara umum ditinggalkan. Demi keselamatan dan kejernihan hatimu sendiri. Sehingga sempat diungkapkap oleh para ulama, "Nyanyian adalah tarian perzinahan."

6. Bayangkan kekurangannya 
Ingatlah selalu, bahwa orang yang kau cinta bukanlah sosok pribadi yang sempurna. Ia sangat memiliki banyak kekurangan, sehingga tidak layak untuk dipuja, disanjung, atau senantiasa diangan. Orang yang kau cintai tidaklah seperti yang kau khayalkan di setiap lamunan.
Ibnul Jauzi mengatakan," Sesungguhnya manusia itu penuh dengan najis dan kekotoran. Sementara orang yang dimabuk cinta senantiasa melihat kekasihnya dalam keadaan sempurna. Disebabkan cinta ia tidak lagi melihat adanya aib."
Kita bisa menghukumi sesuatu kecuali dengan timbangan keadilan, sementara orang yang sedang kasmaran tengah dikuasai oleh nafsunya sehingga tidak dapat bersikap dengan adil. Kecintaannya menutupi seluruh aib yang dimiliki pasangannya. Para ahli hikmah berkata, "mata yang diliputi hawa nafsu akan menjadi buta."

7. Tips yg lainnya 
1. Usahakan untuk menjauh dari orang yang dicintai. Karena terpisahnya badan akan memberikan pengaruh jauhnya hati dari orang yang dicinta. Hendaknya sabar menanggung perpisahan beberapa saat walaupun sulit.
2. Kontinu menghadiri majelis dzikir, bergaul dengan orang-orang shalih, serta mendengar atau membaca kisah orang-orang shalih.
3. Meredam keinginan, memupus harapan disertai keinginan keras untuk dapat mengalahkan hawa nafsu.
4. Selalu teratur menjaga shalat dengan sempurna, khusyuk dan berusaha sempurna secara lahir dan batin.
5. Mencampakkan seluruh keinginan yang rendah, hina, dan perbuatan tercela, serta berusaha meraih segala keutamaan.
6. Mengambil pelajaran dari kedukaan orang-orang yang dimabuk cinta, derita dan kacau balaunya urusan mereka.

 sumber:http://sebuahtips.blogspot.co.id/2010/06/tips-mengatasi-rasa-kangen-ala-islami.html

Monday, February 22, 2016

cerpen kau dan diriku

Karena Janji-Nya sangat indah
(Wa Allaahu yak’lamu wa antum la ta’lamun)

Ketika fajar menyonsong, matahari mulai menunjukkan dirinya, ayam berkokok bersaut-sautan, aku terbangun dari tidur ku yang lelap. Hari ini, aku terbangun lebih cepat dari sebelumnya, karena hari ini hari yang special bagiku dan amat penting bagiku.
            Aku mulai mempersiapkan diri untuk bergegas ke kampus, dari mulai pembersihan badan, bermolek diri dan lainnya, aku ingin terlihat sempurna hari ini.
            Pukul menunjukkan 07.30 wib, aku berangkat ke kampus, dengan hati yang sedari tadi berdebar tiada henti. Dengan menaiki bus, aku sampai dikampus.
            Aku memasuki ruangan yang membuat hatiku semakin berdebar tak menentu, ya, hari ini aku sidang meja hijau.
            Pukul 08.00 sidang meja hijau pun dimulai, semuanya berjalan dengan lancar dan diriku begitu leluasa menyampaikan hasil penelitianku meski perlu mengatur luar biasa hatiku yang terus berdebar. Aku tersenyum sumringah, karena sidang ku sukses. Aku melihat keluar pintu, dan aku melihat teman baikku sedari tadi berdiri melihat penampilanku dan tersenyum padaku.
            Aku menghampirinya, “hai ami, bagaimana penampilanku?”
arumi : “wah, sepertinya kau terlihat sangat senang sekali, selamat ya atas keberhasilanmu, penampilanmu sangat menarik, aku yang nggak kelar dengan berkas skripsi jadi iri ngelihatnya”
mila : “heei, kau tidak perlu iri, aku yakin kau juga akan cepat menyelesaikan tugasmu, dan mencapai kebersihasilan yang lebih baik”
arumi: “amiin”
mataku mulai melirik sana dan sini, aku mencari seseorang, yang sedari tadi kutunggu kedatangannya, tetapi tak ada terlihat, arumi yang melihat gerak-gerik ku seperti tahu apa yang ku cari.
Arumi : “ mila, apa yang kau cari? Apakah kau ingin menjumpai seseorang? Apakah adli?
Aku mengangguki pertanyaannya
Arumi: “mil, sebenarnya ada yang harus ku ceritakan padamu, ini tentang adli”
Mila: “kenapa dia”
Arumi mengeluarkan hp androidnya, dan membuka pesan dari bbm nya yang terlihat bahwa kiriman pesan itu tertulis dari adli
Isi pesan :
            Arumi: “apa yang sedang kau pikirkan adli”
            Adli: “banyak, dan tak bisa ku jelaskan padamu”
            Arumi:  “ jangan pikirakan banyak2 yang lain-lain, cukup pikirin aja si mila”
            Adli: “ kalau dia sich, gak perlu dipikirin, karena emang dah masuk setiap saat di pikiranku”
            Arumi : “ bagus donk, oh ya kamu jadikan akan mengkhitbahnya setelah sidang mila selesai? sudah 2 tahun kau memendam perasaanmu padanya, karena kau katakan bahwa jika wanita sholeha seperti mila itu, baiknya langsung di kitbah, bukan di ajak main-main seperti yang dilakukan orang yaitu pacaran dan kau juga tahu bahwa dia tidak mau pacaran,
            Adli: “sepertinya aku harus membuang mimpiku bersamanya, kau tahu aku harus menjauhinya karena penyakitku”
Aku yang membacanya menjadi tersentak.. ada apa dengan adli? Apa yang iya derita? Tanyaku pada arumi
Arumi: “maafkan aku mil, harus merahasiakannya darimu, aku tak ingin kau menjadi kecewa dengan harapan yang kau miliki dengan isi hatimu yang kau pendam selama ini. Dia sebenarnya memiliki penyakit yaitu akan melupakan orang-orang yang dia sayang, termasuk dirimu mil”
Mila: “apakah maksudmu dia menderita penyakit sejenis Alzheimer”
Arumi: “aku tak tahu pasti mil, karena dia hanya berkata akan lupa pada yang dia sayang, kalau bukan yang dia sayang dia tetap ingat”
Mila: “kenapa dia berpikir harus menjauhiku, kenapa tidak lebih dekat agar tetap ingat padaku, apakah dia berpikir aku berharap dengan orang perfek, tidak ami, aku hanya berharap ingin dengan orang yang perhatian padaku baik saat aku sedang susah maupun senang, itu saja cukup.
Arumi: “aku mengerti perasaaanmu mil, bersabarlah jika dia jodohmu Allah akan mempertemukanmu dengannya”
Mila: “apakah harus aku dulu yang mengungkapkan perasaanku dengan jelas dari mulutku bukan dari sikapku padanya, apakah harus, agar dia tidak pergi dariku”
Arumi: “apa yang kau pikirkan mila, istighfar, kenapa kau bersikap begini, mila yang kukenal tak akan pernah berbuat sesuatu yang dibenci oleh Allah, serahkan semuanya pada Allah mil, jika dia jodohmu maka dia akan datang padamu bukan pergi dari mu dan menurutku dia itu pengecut, kenapa harus takut dengan penyakitnya untuk bisa bersama dengan yang dicintainya, mil aku yakin kau akan mendapatkan orang yang terbaik dan sholeh untukmu, aku yakin itu”
Sambil terisak-isak, mila memeluk erat kawannya dan beristghfar, dan mengkuatkan keyakinannya bahwa Allah akan berikan jalan yang tebaik untuk setiap hambanya dan Allah akan memberikan jodoh yang terbaik untu setiap hambanya, karena tiada cinta yang paling indah kecuali cinta Allah.
Namun setelah kelulusanku Adli tidak menampakkan batanghidungnya sedikitpun padahal waktu itu aku berharap setidaknya dia menampakkan batang hidungnya untukku meskipun untuk yang terakhir kalinya.
            Akkhirnya aku pun mendapatkan pekerjaanku yang sesuai tidak menunggu lama ku mencari pekerjaan. Ternyata janji Allah itu benar bahwa “DIa tidak akan menelantarkan orang-orang yang beriman”. Aku pun bersyukur atas nikmatNYa.
            Namun ada satu yang masih belum kugapai.
            JODOH
            Ya jodoh masih belum dapat kugapai hingga saat ini,umurku telah hampir 24 tahun. Padahal rencanaku akau mau menikah pada umur 24 tahun.
            Arumi : “Mila kau udah siap belum?”
            Mila    :”Sebentar kayaknya aku ada kelupaan sesuatu”
            Arumi     : “Ya ampun Mila kamu kok gak berubah dari zaman dinasaurus sih masih aja PELUPA”
            Pergi, ya hari ini aku bersama teman baikku Arumi ingin pergi mengikuti pengajian. Aku sebetulnya malas mau pergi ke pengajian itu karena pematerinya tidak aku kenal, tapi kata orang-orang pemateri tersebut sangat bagus, ceramahnya kena di hati dan juga motivator yang handal.
            Sesampainya di tempat kami mengambil tempat duduk. Hmm cukup banyak juga orang yang mengikuti pengajian ini, “apa memang betul ya apa kata orang?”
            Pada saat si pemateri memberikan materinya maka tanpa sadar air mataku menetes dengan indahnya. Ternyata si Pematerinya ialah Adli. Ya Adli tidak salah lagi. Sejak kapan dia menjadi penceramah memang kata dia impian dia ialah ingin menjadi pembicara yang bias mengunnggah hati orang-orang.
            Arumi : “Mila!”
            Mila     : “Ya ada apa Arumia?”
            Arumi    : “itu Adlli kan?”
            Mila     : “Hmmm”
            Ku hanya bisa menganngguk sedikit
            Selesai Adli memberikan kata-katanya maka ada sesi meminta tanda tangan, orang-orang sedari tadi sudah antri menunggu giliran. Tinggal Aku dan Arumi yang belum.
            Arumi : “Mila kita ikut juga yok siapa tahu dia masih mengingatmu”
            Tanpa menunggu persetujuanku Arumi menarik tanganku dan langsung ikut antrian tepatnya di antri nomor paling AKHIR. Ya kami dapat no paling akhir belum lagi panjang antriannay sudah mencapai 1 km.
            Dengan sabar kami menunggu antrian. Sebenarnya dari tadi hatiku ini selalu berdebartak menentu jujur aku belum bisa melupakan dia namun ‘APAKAH DIA MASIH MENGINGATKU?’.
            Akhirnya sampai juga giliran kami, hati ini berdebar kian tak menentu.
            Arumi  : “Ini tolong tanda tangani buku ini!
            Adli dengan sigap menandatangani buku tersebut.
            Sekarang giliran aku.
            Adli   :”Maaf ukhti dimana saya harus menandatangani?”
            Arumi  :”Apakah bapak tidak mengenali kamia?”
            Dengan penuh harap ku mendengar jawabannya ‘SEMOGA DIA MASIH MENGINGATKU’
            Adli  : “Maaf ukhti kalian siapa ya , saya tidak mengenal kalian”
            Trusss seakan disambar petir hati ini dia tidak mengingat aku lagi ternyata penyakitnya memang betul. Aku sebenarnya ingin menangis keras namun sebisa mungkin aku tahan.
            Mila  : “maaf kami hanya iseng saja ni yang mau ditandatangani”
            Arumi  : “mila kamu mau kemana?”
            Sedari tadi Arumi memanggil-manggil aku namun tidak kugubris hati ini telah teriris berkali-kali. Berkali-kali ku ini istigfar namun berkali-kali bayangan kejadian tadi hingap ke pikiranku. Yang ada di pikiranku sekarang aku mau menangis sejadi-jadinya sambil meminta kepada Allah SWT untuk menenangkan hati ini.
            ‘Allahu Akbar Allaahu Akbar’           
            Azan magrib berkumandang tanpa sadar aku tertidur di sajadahku yang manis. Ya sajadahku yang telah mengawali hari-hariku. Dengan langkah penuh gontai aku pergi kekamar mandi untuk mengambil wudhu.
            Ku melakukan salat namun bayangan tadi selalu menghampiriku. Tanpa sadar ku menangis di dalam shalatku hingga aku berdo’a
            ‘Ya Allah pemegang dan pemilik hati ini,hamba tahu bahwa jodoh yang terbaik bagi hamba telah Engkau persiapkan namun Engkau selalu memberikan cobaan untuk memberikan hadiah yang paling indah. Mungkin Adli memang bukan jodoh hamba namun hamba mohon tolong hamba ya Allah. Tolong hamba untuk melupakannya. Hati ini sudah terlalu sakit ya Allah. Ya Allah memang dia bukan jodoh hamba namun kuatkanlah hati hamba untuk melupakannya dan selalu menyebut namaMU ya Rabb.
            Ya Allah KeputusanMU lebih baik, untuk segalanya hamba serahkan semuanyapadaMu YA Rabb
            Robbana Atina Fiddunya Khasanah WafilAkhiraati Khasanah Waqina ‘Aja Bannar.’
            Tanpa terasa hatiku menjadi tentram dan sedikit demi sedikit kejadian tadi tidak menyakiti hatiku lagi.
            Mama  : “Mila kamu keluarya dari kamarmu jangan lupa memakai pakaian yang bagus ya”
            Mila  : “Memang ada apa Umi?”
            Mama : “Sudah turuti  aja apa kata Umi”
            Huft dengan bersungut-sungut akupun mematuhi apa kata Umi.
            Mama : “Nah gini anak Umi cantik sekali”
            Entah apa maksud umi aku pun bersama Umi pergi keruang tamu namun hati ini sangat terkejut rupanya ada Adli disana ada apa gerangan. Tiba-tiba bayangan kejadian tadi muncul’Ya Allah kuatkanlah hati hamba ini’
            Adli : “Adapun maksud kedatangan saya hari ini untuk mengikat tali silaturrahmi bersama keluarga anak ibu. Terus terang saya ingin mengkhitbah anak ibu”
            Truss hati ini berdetak lebih cepat lagi. Apa maksud Adli ingin mengkhitbahku bukannya dia tidak mengingatku lagi trus dari mana dia dapat alamatku?. Hati ini hanya bisa beristigfar.
            Mama  : “Lah nak Adli memang kenal sama anak saya?”
            Adli     : “Terus terang bu saya tidak mengenali anak ibu”
            Mama  : “Lantas darimana keyakinana nak Adli untuk mengkhitbah anak saya?”
            Adli     : “Saya sebenarnya bingung ibu pada malam sebelumnya saya solat tahajjud ibu saya meminta petunjuk tentang jodoh saya ibu. Siangnya sebelum saya memutuskan untuk bercceramah tiba-tiba saya merasa saya akan menemukan jodoh saya dengan petunjuk wanita yang memberikan alamatnya untuk saya tandatangani. Saya tidak tahu kenapa ada firasaat itu namun saya hanya beristigfar ibu, maka pada saat terakhit proses tandatangan tiba-tiba ada wanita memberikan alamatya untuk saya tandatangani ibu. Di situlah saya terkejut ibu. Mungkin inilah petunjuk Allah Maka dari itu saya bismillah untuk melamar anak Ibu.
            Ya Rab.. Air mata menetes dengan indahnya
            ‘Sungguh RencanaMu yang terbaik’
            Aku tidak tahu maksud semua ini tapi ini indah sekali Ya Rabb . aku pun mengcek tanda tangannya ternyata benar itu rupanya berisi alamatku. Akhirnya aku teringat Adli rupanya mempunyai otak yang cemerlang bahkan kami anggap jenius. Dia bisa mengerti pelajaran yang paling sulit sekalipun dengan sedikit mempelajarinya. Dia bisa membaca buku dengan cepat dan menghapalnya.
            ‘Sungguh Rencanamu yang terbaik’
            Mama  : “Ya nak Adli mungkin itu petunjuk Allah SWT namun bukan saya yang memutuskan namun anak saya yang memutuskan bagaimana Mila kamu setuju?”
            Aku tidak bisa berkata apa apa lagi aku hanya bisa menangis, tersenyum, dan mengangguk pelan.
            Alhamdulillah….. Adli dan Mama berucap hamper serempak.
            Seketika itu aku ingat apa kata Adli dulu
            ‘ Wa Allaahu yak’lamu wa antum la ta’lamun (QS ALbaqarah : 216)

            Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui’

Friday, February 14, 2014

si jemut

dunia.. sebuah kehidupan yang begitu menyesakkan meskipun ia tampak begitu luas. hingga betul lah kata pepatah "dunia itu begitu sempit". ah.. bisa kah aku terlepas dari belenggu dunia ini..
bersambung..

Tuesday, April 23, 2013



RINDUKU KENANGANKU

Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgjJlrF8qvn4750cikBQfBh0xKR-LU2KVCpz0hXGp-YHR2DnxCVXk8dHL9ufeJ2Estczmry0i3IAGB6npnEopUm5bTVlkBvyUM8FLXiJtpwT6QCS1kaN8K3Qb1v4ZEnTNjC2IPn8GiulhA/s1600/RINDUKU+KENANGANKU.gif

Cahaya keemasan matahari dan hembusan angin sore membuat daun-daun kecil berguguran di pinggir danau dan menyilaukan pandanganku pada secarik kertas di depanku. Hari-hariku terasa menyenangkan dengan sebuah kuas yang terukir namaku “Diana”. Yah, boleh dikatakan aku gemar melukis di tempat-tempat yang menurutku indah dan tenang. Apalagi dengan seorang sahabat, membuat hidupku lebih berarti.
               Dari kejauhan terdengar alunan biola nan merdu semakin mendekati gendang telingaku. Alunan merdu itu membuatku semakin penasaran.
               “Ya sudahlah, mungkin hanya perasaanku saja”
               Dengan rasa penasaran, aku sambil mengemas peralatan lukisku dan mengendarau sepeda menyusuri jalan komplek rumahku yang berbukit dan rindangnya pepohonan sepanjang jalan di bawah cahaya mentari yang mulai redup.

* * *

Pulang petang menjadi hal yang biasa bagi Lintang. Seorang gadis tomboy berambut hitam panjang yang selalu di kuncir ke atas. Dia selalu bermain basket di bawah rumah pohonnya, letaknya di samping danau yang airnya tenang, setelah pulang dari les. Dengan mengusap keringat di pipinya dia bergegas menyusuri komplek rumahnya dengan perasaantakut karena selalu pulang telat.
Pada waktu yang bersamaan, Diana meletakkan sepedanya ke garasi dan melihat Lintang.
               “Lintang,, Lintang,, dari mana saja kamu?
               “Aku mencarimu! Kata Diana
               “Aku main basket di tempat biasa, di bawah rumah pohon. Ma’af, udah buatmu khawatir.”
               “Entahlah…. Sudah dulu ya, bau banget nih.
               “Huuhh,, dasar cewek gadungan, aku dicuekin lagi…! Kesal Diana
               Dengan rasa kesal, gadis itu pun masuk ke kamar khayalannya. Meletakkan peralatan lukisnya di sudut ruangan dekat lemari kaca yang penuh dengan boneka kucing dan patung kecil yang terbuat dari tanah liat. Ia selalu menatap lukisan sunset yang di belakang pintu kamarnya. Ketika melihat itu, ia merasakan tenangnya dunia di laut lepas.

* * *
               Lintang segera membersihkan dirinya karena takut ibunya marah. Ibunya pun heran melihat tingkah anak semata wayangnya itu. Sifat keras kepala Lintang yang biasanya tampak, namun kala itu hati tomboynya bisa luluh dengan rasa bersalahnya. Ketika ia duduk di atas kursi yang tinggi sambil mengamati indahnya malam. Tiba-tiba ia merasakan sakit pada badannya, perutnya nyeri dan nafasnya terasa sesak. Lintang bingung dengan apa yang dia rasakan dan tiba-tiba ia terjatuh dari kursi tingginya, mencoba mengendalikan diri untuk bangkit ke tempat tidur dan beristirahat.

* * *
               Teriknya mentari dan angin sepoi-sepoi yang dirasakan di bawah pohon nan rindang, membuat siswi SMA ini hanyut dalam omajinasi. Khayalan yang sungguh nyata membawa ia larut dalam impian.
               “Hai Diana, asyik bener nih melukisnya, lihat dong. Pasti lagi gambar aku kan? Kejut Lintang
               “Hmm,, ngapain juga aku gambar kamu. Seperti gak ada objek lain aja yang lebih bagus.. hahahha..
               Mereka begitu asyik bercanda tanpa menghiraukan teman yang lain di sekitarnya yang merasa kebisingan karena tingkah mereka yang sungguh beda dengan siswi lainnya. Dan anak-anak yang lain sebaliknya sudah merasa biasa dengan sikap mereka itu.
               “Aku mau cerita..tapi……….(serius Lintang_
               “Cerita aja…ada apa? ( menatap Lintang kebingungan)
               Tiba-tiba, Lintang terjatuh. Kata-kata yang ingin ia bicarakan tidak mampu terucap. Kepanikan gadis seni ini sungguh luar biasa. Ketika di ruang UKS, Lintang terbaring tak berdaya. Diana berlari menyusuri kelas dan mencari telepon di sekolahnya. Untuk memberi kabar pada orang tua Lintang dan membawanya ke rumah sakit..
               “Aku ada di mana? Ada apa denganku? ( sadar Lintang)
               “Kamu ada di rumah sakit. Kamu tadi pingsan di taman belakang sekolah. Kamu nggak apa-apa kan? (khawatir Diana)
               “Aku sakit apa? Mana ayah?”
               “Dokter masih belum memberitahukan pasti penyakitmu. Ayahmu masih dalam perjalanan. Bersabarlah sebentar. Cepat sembuh ya,, biar sore ini kita bisa belajar bareng, kan kamu udah janji kemaren.”
               “Mungkinkah penyakitku itu serius?””ahh, jangan berpiir gitu, kamu pasti sembuh. Semangatlah, aku akan ada di sampingmu..”
               “Sudah, sekolah sana. Biar pintar, dan bisa membalap rangkingku. Hhaha…”
               “Iihh,, kamu. Calon ilmuan gini diejekin. Pasti dong aku bisa. Hhehe”
               “Ya deh,, buktikan ke aku ya nanti.”
               “Iya, pasti. Suatu saat kita akn merayakan keberhasilan kita. Aku ke sekolah dulu ya.! Sebentar lagi, orangtuamu juga akan ke sini. Bye !!”
               “Bye.. Hati-hati ya Diana. Thank’s!"

* * *
               Jalan lorong sekolah tampak sepi, hanya ada seorang gadis berambut hitam pendek duduk di depan kelas musik sambil membawa biola dengan wajah yang tampak murung, Diana segera menghampirinya.
               “Hai, kenapa kamu sendiri? Nggak masuk kelas?” Tanya Diana heran
               “Hmm, aku.. aku.. mau sendiri di sini aja.”
               “Jangan seperti anak kecil, ayolah masuk. Tapi, apa yang membuatmu sedih?” penuh heran
               “Tadi, ketika ada pemilihan bakat pemain biola, aku ada kesalahan memainkan nada, sampai-sampai alunannya nggak enak didengar. Mereka menertawakanku, padahal aku baru saja pindah ke sekolah ini jadi aku masih belum pandai memainkan alat musik seperti biola ini..”
               “Kamu sudah hebat kok, kamu bisa memainkan alat musik kesukaanku, dan aku… aku hanya bisa menggambarnya. Yang penting, tetap berjuang!! Daah..aku ke kelas dulu ya..”
               “Thengs.. siapa namamu?”
               “Diana!" Teriaknya.. (sambil berlari)
               Nafas yang terengah-engah membasahi wajah gadis lembut nan periang itu. Diana segera masuk ke kelas lukisnya yang sudah mulai belajar. Sambil menyapu keringatnya, teringat sahabatnya yang terbaring lemah.
               (Mungkinkah kami akan terus bersama?) dalam hatinya berkata.
               Ibu Tari masuk ke kelas tiba-tiba. Meihat Diana yang sedang melamun segera menghampirinya.
               “Diana, kenapa kamu?”
               “Ohh.. Ibu. nggak apa-apa bu.”
               “Kamu bohong, da masalah ya? Tidak biasanya kamu seperti ini!”
               “Ii..ia bu.”
               “Memangnya ada apa, sampai-sampai mengganggu pikiranmu seperti ini?’
               “Sahabatku, Lintang. Dia masuk rumah sakit dan sepertinya penyakitnya parah.”
               “Ohh,, Lintang ya. Gimana kalau sepulang sekolah kita menjenguknya” ajak bu Tari
               “Ibu mau menjenguknya? “
               “Iya,, nggak apa-apa kan?”
               “I..ya. nggak masalah.” Semangat Diana
               Ibu Tari adalah guru yang paling disukai banyak siswa. Tak kadang banyak siswa yang curhat. Beliau memiliki jiwa keibuan, walaupun beliau belum menikah. Beliau sangat perhatian dan mengerti perasaan orang lain.
               Ibu Tari memberi semangat Diana, membuat ia semangat pula bertemu Lintang. Ia menyelesaikan lukisan pemandangan dengan kuas kesayangannya. Kali ini, ia mendapat pujian dari teman-teman dan bu Tari. Sampai-sampai lukisannya akan diikutkan dalam pameran lukisan. Lukisannya menggambarkan eorang gadis berkerudung duduk di atas tebing tinggi yang dihantam ombak di tepi pantai. Lukisan itu pun dihiasi pantulan sinar matahari di penghujung hari. Gambarnya begitu nyata, dan membawa dalam khayalan. Diana dan bu Tari pun berangkat menjenguk Lintang.
Hanya mereka berdua yang masih berada di sekolah. Tak heran, suara mereka menggema ketika lewat lorong sekolah. Diana melepas pandangannya ke arah taman di samping lapangan basket. Ia sempat kaget ada seorang gadis duduk di atas potongan pohon. Ketika ia hampiri, ternyata gadis biola itu.
               “Hai, belum pulang?" Sapa Diana
               “Hmmn. Belum Diana’
               “Ngapain kamu sendiri di sini, Zy?” Sahut bu Tari
               “Lho, ibu kenal dia?” sahut Diana
               “Uta, ibu kan juga mengajar kelas musik. JadI ibu kenal Lizy”
               “Ohh, namamu Lizy ya?”
               “Iya,, ibu mau ke mana, kok sama Diana?”
               “Ibu sama Diana mau ke rumah sakit, jenguk sahabatnya Diana. Kamu mau ikut?”
               “Ya,, boleh. Ayo! Panasnya terik matahari sudah mulai membakar kulit nih..” ajak Lizy
               “Hhhhaha….” Sambung Diana

* * *
               Diana meletakkan sekeranjang buah yang di bawanya. Kebetulan, kapten tim basket mereka juga jenguk Lintang. Rasa tak percaya meliputi kedua sahabat ini. Dalam keadaan yang tak mudah untuk mereka bersenda gurau. Padahal, rame kan, semuanya pada kumpul.
               “Bagaimana keadaanmu?” kejut Lizy
               “Ya, lumayan lah, agak mendingan.” Dengan suara datar sambil menunduk.
               Lintang mengangkat kepalanya, dan…. “Haahh,, Lizy!” teriaknya
               “Bagaimana bisa kamu di sini Zy?”
               “Syukurlah. Tadi aku diajak bu Tari dan Diana. Dan ternyata, yang terbaring saat ini adalah sahabatku.”
               “Sebenarnya, kamu sakit apa sih?” sambung Diana
               “a..ku, sakit Leukimia..”
               Semuanya tercengang, tak ada seorang pun yang berani memulai pembicaraan. Termasuk kapten basket Deva yang langsung terdiam ketika ia memainkan dasinya..
               “Kalian tak usah khawatir, di sisa umurku ini aku tak akan membuat kalian kecewa”
               “Jangan bilang begitu, yakinlah kamu masih bisa bermain basket lagi..” sahut Deva
               “Yaa, teruslah bersemangat. Siapa yang tahu kan takdir Tuhan. Semoga kamu cepat sembuh.” Sambung bu Tari
               ( Lintang terharu mengingat dan menyimpan momen ini. Ia memejamkan matanya hingga butiran air menetes di pipinya). Semuanya merasa iba padanya, khususnya Deva teman basketnya yang justru tidak mau kehilangan main lawannya walaupun Diana dan Lizy merasakan halyang sama dengannya. Bu Tari memulai pembicaraan setelah semuanya membeku.
               “Hari mulai sore nih, kalian semua masih belum ada yang mau pulang?”
               “Belum bu, sebentar lagi.” Jawab mereka serempak.
               “Ya sudah, ibu pulang duluan. Cepat sembuh, ya Lintang. Jangan patah semangat, kasihan sahabat dan tim basketmu, pasti mengkhawatirkanmu. Asalamualaikum…” kata bu Tari
               “walaikumsallam.. Iya bu, makasih. Hati-hati ya bu..”
               Suasana berubah menjadi hening kembali..
               “Aku tak ingin kehilanganmu, Lintang. Selalu ingat kata-kataku…" (bisik Diana)
               “Kamu-Sahabat_Terbaikku” mereka serempak.
               Hari ini terasa cukup singkat. Membawa mereka dalam canda tawa dan kerinduan. Diana dan Lizy segera pulang membawakabar perih dan memandang dengan rasa tak percaya. Diana teringat akan lukisannya. Di dalam hatinya dia ingin menjual lukisan itu untuk biaya Lintang. Ia merasa iba melihat orang tua Lintang pergi bolak balik mencari uang.
               “Diana, ada apa denganmu?’ kejut Lintang
               “Tidak, kami harus pulang. Hari sudah mulai gelap nih”
               “ohh, ya. Besok mungkin aku sudah diperbolehkan pulang jika kondisiku stabil”
               “Cepat sembuh, ya”……

* * *
Di depan lukisannya, Diana duduk termenung sambil menulis di buku diarynya.

Malam ku sepi..
Tak sanggup ku mengungkapkan
Air mata membendung di kelopak mataku..
Walaupun aku tertawa, tapi aku tetap merasakan bila hati ini menangis melihat nya tersenyum.
Jika Engkau mengizinkan. Takkan ku biarkan ia terbelenggu…
Kamu_sahabat_Terbaikku

               Ia simpan buku diarynya di tumpukkan buku pelajarannya. Diana memikirkan solusi untuk membantu Lintang. Iameluangkan waktu untuk melukis sebanyak-banyaknya untuk di jual tanpa sepengetahuan Lintang. Lizy yang baru dikenalnya juga turut membantu. Tak heran, ibunya Diana tiap hari selalu menyiapkan keperluanlukisnya. Malam semakin larut, Lizy yang juga tampak terlihat lelah memutuskan untuk menginap. Mereka terbaring di tempat tidur, namun tak ada salah satu dari mereka yang tertidur.mereka sama-sama ingin merencanakan sesuatu….

3 hari kemudian…

               Pohon-pohon yang menjulang tinggi disinari matahari yang masuk dicelah-celah dedaunan yang rindang. Diana dan Lizy sengaja membawa Lintang ke danau. Diana menggelar tikar, menyusun makanan, peralatan lukis, dan tempat mereka duduk. Sedangkan Lizy bersiap-siap di atas rumah pohon sambil memegang biola kesayangnnya. Namun dengan Lintang, ia justru merasa kebingungan dengan kedua temannya itu, sambil mengikik heran melihatnya.
               Diana memulai dengan memukul kedua kuasnya menandakan Lizy yang memainkan alunan biola yang merdu dengan lagu berjudul “semua tentang kita” sambil bernyanyi.

Waktu terasa semakin berlalu
Tinggalkan cerita tentang kita
Akan tiada lagi kini tawamu
Tuk hapuskan semua sepi di hati
Teringat di saat kita tertawa bersama
Ceritakan semua tentang kita

Ada cerita tentang aku dan dia
Dan kita bersama saat duu kala
Ada cerita tentang masa yang indah
Saat kitaberduka saat kita tertawa

               Ketika lagunya selesai, tiba-tiba mereka semua terdiam sejenak. Suasana seperti di pemakaman, sepi, sunyi, hening, hanya hembusan angin yang terdengar. Diana membuka pembicaraan.
               “Dan aku baru ingat. Dulu ketika aku melukis sendiri di sini aku kagum dan penasaran siapa yang memainkan biola ternyata… itu kamu, Lizy!”
               “Iya,, tengs. Aku sengaja memainkannya karena semenjak aku tinggal di sini aku sangat kesepian. Dan ketika aku menemukan tempat indah ini, setiap sore di waktu luangku, aku bermain biola. Kebetulan, aku melihat seorang gadis sedang melukis.”
               “waah.. kalian sungguh hebat! Aku juga kagum pada kalian, kalian sendiri yang membuat acara ini dan kalian juga yang mendapatkan kejutan. Ketika pertama kali bertemu Diana, aku juga kagum atas sikapmu yang selalu memperdulikan teman-temanmu. Jika aku pergi nanti jangan lupakan persahabatan kita ini ya..”
               “Ah, kalian ini selalu membuatku GR. Tapi makasih ya atas pujiannya.ku yakin, kalian juga mempunyai keistimewaan masing-masing. Dan kamu Lintang, si cewek gadungan. Masa jiwa tomboymu yang tegar dipatahkan dengan adanya penyakit ini. Justru dengan ini kamu bisa bertambah tegar yang tahan bantingan.. hahaha.
               “Emang aku bola, tahan bantingan. Hahaha! Ketus Lintang
               Diana tak ingin membuat hati teman-temannya terluka, ia selalu mencoba untuk tersenyum walau di hatinya sangat mengganjal. Tak lupa, Diana melukis simbol persahabatan mereka “LiDiZy”. Dari kejauhan Deva sedang bersepeda mengitari danau, melihat tingkah mereka yang terlihat ekspresif dan penuh canda tawa. Tapa berpikir panjang, ia menghampiri ketiga cewek itu sambil membawa gitarnya dan langsung duduk di tikar.
               “Eh, kamu. Udah minta izin dengan yang punya belum? Sembarangan aja duduk.” Judes Diana
               “Kok gitu, sih Diana. Nggak apa-apa kok.” Bela Lintang
               “Coba deh kalian lihat, dia mau ngehancurin acara kita.” Sebel Diana
               “Eh kamu, bagai ratu aja. Lintang aja nggak keganggu. Sekali-sekali dong aku ikut gabung. Kan jarang-jarang bisa dekat sama cowok popular di sekolah. hitung-hitung kesempatan buat kalian.”
               “Ya sudah, cukup. Kita nyanyi bareng lagi yuk….” Lerai Lizy
               “Eh, ganti dong simbolnya jadi…(berpikir sejenak) “LiDiZyVa” kan lebih keren!” sahut Deva
               “Ah, kamu ini ada-ada saja. Semoga masih ada ruang untuk menulis namamu ya.. hahaha
               “hhuuhh…”
               Seharian mereka jalani untuk menghibur Lintang. Walaupun diantara mereka baru saling mengenal, tapi mereka seperti mempunyai kekuatan magnet. Hari-hari mereka selalu bersama.

* * *
               Waktu yang tepat ditemukan Diana dan Lizy untuk menjalani rencana kedua mereka. Mereka sudah mengatur strategi agar lukisan Diana laku terjual. Hampir 2 minggu penuh mereka meluangkan waktu untuk menjualnya. Uang yang terkumpul lumayan banyak, dan segera mereka berikan pada orang tua Lintang tanpa sepengetahuan Lintang. Deva yang biasanya sibuk dengan tim basketnya, akhirnya ikut membantu juga.
               Di waktu yang bersamaan mereka datang ke rumah Lintang secara tersembunyi, mereka melihat Lintang kesakitan sambil memegang perutnya. Kekhawatiran mereka tak dapat dibendung. Mereka segera membawa Lintang ke rumah sakit dan memberitahukan orang tuanya. Mengingat Lintang adalah anak semata wayang orang tuanya.
               Ternyata, penyakitnya bertambah parah. Sebenarnya, Lintang pulang dari rumah sakit karena keterbatasan biaya. Uang yang mereka dapatkan tidak cukup untuk membiayai semua pengobatan Lintang. Di tambah lagi ayah Lintang yang hanya memiliki tabungan seadanya, itu pun telah habis digunakan. Terpaksa, Lintang hanya bisa di opname tanpa harus membeli semua obat yang diperlukan.

* * *
               Setiap lorong sekolah kelas X ramai dipenuhi siswi yang mendengar kabar mengenai Lintang. Anak yang tomboy dan disenangi banyak orang.
               “Hai, Diana, Lizy. Gimana keadaan Lintang? Apa dia membaik? Kapan kalian mau menjenguknya lagi?” (pertanyaan runtun dari Deva)
               “Hello Deva, kalau nanya satu-satu dong. Kamu bukan mau wawancara kan?” jawab Diana
               “Emang, kami orang tuanya? Kami juga belum tahu keadaannya. Ayo kita jenguk aja sama-sama pulang sekolah” tegas Lizy
               Bunyi bel panjang bertanda telah berakhir jam pelajaran. Hujan yang tampak lebat, membuat para siswa harus menunggu sampai hujan reda. Tiba-tiba handphone Deva berbunyi, padahal peraturan sekolah dilarang membawa handphone, suara di seberang membawa berita buruk.
               Hujan yang lebat tak mereka perdulikan. Mereka lari basah-basahan menuju rumah sakit sambil menangis terisak-isak. Mereka sangat khawatir dan tak percaya bahwa kabar itu memang benar nyata. Sahabat mereka Lintang meninggal dunia. Nyawanya tak dapat tertolong lagi karena penyakitnya semakin hari semakin parah. Orang tua Lintang merasa kehilangan dan terpukul, namun semua adalah kehendak-Nya. Orang tua Lintang juga sangat berterima kasih pada Lizy, Diana, dan Deva. Menganggap mereka sebagai anaknya.

* * *

“Tak sempat ku berikan
Tak sempat ku sampaikan”
_LiDiZyVa_

Kalimat itu selalu melintas dipikiran Diana. Begitu pula Lizy dan Deva. Kerasa tak percaya, kehilangan, kerinduan, tersirat dibenak mereka. Mereka termenung di tepi danau sambil menyanyikan lagu “Semua Tentang Kita” yang biasa mereka nyanyikan.

Waktu terasa semakin berlalu
Tinggalkan cerita tentang kita
Akan tiada lagi kini tawamu
Tuk hapuskan semua sepi di hati

Belum sempat lagu itu dinyanyikan, butiran air mata membasahi di pipi ketiganya. Orang tua Lintang tiba-tiba dating dan ikut duduk di antara mereka. Memberikan semangat pada Lizy, Diana dan Deva bahwa masa depan mereka juga menjadi kebanggaan orang tua angkat mereka. Ibu Lintang tiba-tiba menyerahkan secarik kertas berwarna biru yang bergambar bunga. Tangan Deva bergetar ketika memegang kertas itu. Rasa penasaran membuat ia segera membuka dan membacanya seperti sedang lomba baca puisi.

Sahabatku impianku
Cita-citaku imajinasiku
Bukan hal yang salah memiliki mimpi
Bukan hal yang salah mempunyai tujuan
Tujuan seperti sinar
Kesana lah kita berlari
Dan untuk itulsh kita hidup
Tapi, terkadang sinarnya terlalu menyilaukan
Membuat kita sulit melihat
Sehingga tiba suatu saat kita harus sejenak berhenti
Untuk menghindari sinar yang ada pada kita sendiri

               “Waahh, sungguh bersemangatnya dia. Aku piker karena fisiknya lemah, jiwanya akan goyah. Tapi aku salah. Hebat!! Puji Diana. Sambil melanjutkan lukisannya.
               “Iya..”sambung Lizy sambil meneteskan air mata.
               Suasana menjadi hening kembali. Kemudian Diana berteriak girang sambil meneteskan butiran air mata yang melintas di pipinya.
               “Lukisan dengan simbol “LiDiZyVa” akhirnya selesai”
               “Waahh..keren.!”
               Mereka menatap terpesona lukisan yang melambangkan persahabatan ini yang terlihat indah karena di sekitar tulisan itu ada gambar wajah mereka masing-masing. Di danau inilah sejarah persahabatanku. Dan tempat inilah aku dan sahabatku berbagi walau hanya sekedar untuk mengenang Lintang.

SELESAI

5 Tips In Finding Hotel

5 Tips In Finding Hotel - Hotel room
Artikel-bahasainggris.blogspot.com - You are planning a holiday abroad for your family, and want everyone to have a good time. You surf the internet for hotel descriptions, but from the pictures you see and what you read, all hotels project a perfect image of themselves. How can you know which one is better? You have never been there and knows nothing of your destination. At the same time, you do not want a hotel room to spend your budget. How do you choose?
Check Independent Hotel Rating
Well, the first step you can take is to visit the hotel to see the search engine ratings from previous visitors. In order assessments for every hotel, most agents ask for an assessment of previous guests. Reading their comments will give you a fair idea of ​​what to expect from the hotel which is located in your destination. Make sure to read some of the comments in order to get a fair picture. Certain incidents described only a rare occurrence that may have been corrected.
Hotel Chains and Facilities
Are they part of an international hotel chain? Most international chains have strict standards attached and the default theme in all of the chain. They may have the same amenities (health club, spa, business center, etc.) are essential to maintain a high standard of hotel. Other things you can look out for shuttle services including concierge, to the city, airport transfers and laundry service is good.
Location
Perhaps one of the most important things when choosing a hotel is the location. Hotels close to shopping center, train station or city center level higher charge than those located elsewhere. Analyzing maps of the area before you order to determine the nearest shopping center or access to the train station that will provide you with a lot of ease in moving around. Also, check with the hotel if they have a large tour groups arrive at the same time. Hotel costs are higher during periods of high occupancy, and do not have the flexibility of late check-out. This is an important aspect that, if ignored, can affect your tour itinerary and your impression of the level of hotel hospitality.
Prices and Discounts
The hotel rates are a huge factor when it comes to choosing a hotel. However, paying more does not always mean that you will receive an equivalent level of service and standards. One way to maximize the price will check if they are part of an alliance with airlines or car rental companies, offering customers a discount for their allies. Sometimes, credit card companies offer their cardholders exclusive rate for special which can be very interesting. In addition, if it is possible to use your frequent flyer points to redeem hotel discounts, this could help reduce the cost of the hotel as well.
Boutique Hotel
Finally, apart from chain hotels, boutique hotels may be a good alternative for a romantic place for couples or families looking for a more typical of the theme. Many boutique hotels have less space but offer value added services such as in-room spa bed, breakfast in bed or even in-room massages. In the end, your choice of hotel really depends on what you want from your holiday.
Wedding Etiquette on Hotel Rooms
by: Rian

A wedding with wedding destination theme has been gaining popularity these days. Couples are choosing a wedding venue far from home. Invited guests are mostly close friends and families who would take the trouble to do a long drive or fly to the wedding venue just to attend the wedding celebration.

Wedding venues for wedding destination are usually being held on a beach, a botanical garden, or scenic spots. These places are offered to public for a fee to use the place for wedding ceremony or wedding reception. But most of these wedding destination venues do not offer a place where the bride, groom, the wedding party and wedding guests may stay before the wedding day. This is the reason why nearby hotels are fully booked even a week before the wedding.

The bride, groom, the rest of the wedding party and the wedding guests are expected to behave and follow wedding etiquette on use of hotel rooms. Yes, wedding etiquette must be observed when using hotel rooms.

For one thing, if you are a bride or a groom and you violated wedding etiquette on proper use of hotel rooms, you will create bad impression on your family name even before the two of you gets married. Or if you are a member of the wedding party or you are a wedding guest and you violated a wedding etiquette on proper use of hotel rooms, you are giving the newly weds a bad name when you should have been helping them create a good name by themselves.

Below are some basic wedding etiquette on proper use of hotel rooms when you have or attending a wedding with wedding destination theme:

– Wedding etiquette on Proper use of Hotel Rooms Before the Wedding Day

1. The very basic wedding etiquette on proper use of hotel rooms is that the bride and the groom should not share the same suite. Yes, people know that you love each other very much (that is why you are getting married, right?), but please, please save your energy for your wedding day, would you? You can do whatever you want after the wedding day and you have all the time in the world to spend days and nights in each other’s arms.

Besides, there is this old tradition that the bride and the groom should not see each other the night before the wedding day or that the groom should not see the bride in her wedding dress because the wedding will be called of.

If you are sharing the same suite, of course the groom would see the bride not just in her wedding dress but as she wears it. So, for just once, follow the old saying even if it is just a superstition just to avoid seeing raised eyebrows from your family and wedding guests. You might even bring your parents or old relatives to a heart attack if you break this old tradition.

Another wedding etiquette in hotel is that brides should refrain from being a bridezilla to the roomboys, chambermaids, and other hotel personnel. Although it is true that the hotel have got fully booked because of your wedding, you should also remember that you don’t employ them, much more own them.

You should not ask them to run errands that are not related to their work anymore or shout at them when they can’t give you your demands as fast as you want them to be. Stop acting like as though you were the most precious person around because you are getting married in a few hours. Act like a blushing bride with right wedding etiquette and not the other way around.

– Wedding etiquette on Proper use of Hotel Rooms After the Wedding Day

2. Refrain from getting yourself some hotel souvenirs. If you are a bride, don’t mar your newly acquired surname by stealing items that you can easily buy from a department store.

If you are a guest, please restrain your hands from stealing ash trays, towels or comforters as a memento or souvenir. They are not wedding keepsakes from the bride and the groom. Do not worry, the newlyweds have something special for you.