Karena
Janji-Nya sangat indah
(Wa Allaahu yak’lamu wa
antum la ta’lamun)
Ketika
fajar menyonsong, matahari mulai menunjukkan dirinya, ayam berkokok
bersaut-sautan, aku terbangun dari tidur ku yang lelap. Hari ini, aku terbangun
lebih cepat dari sebelumnya, karena hari ini hari yang special bagiku dan amat
penting bagiku.
Aku mulai mempersiapkan diri untuk
bergegas ke kampus, dari mulai pembersihan badan, bermolek diri dan lainnya,
aku ingin terlihat sempurna hari ini.
Pukul menunjukkan 07.30 wib, aku
berangkat ke kampus, dengan hati yang sedari tadi berdebar tiada henti. Dengan
menaiki bus, aku sampai dikampus.
Aku memasuki ruangan yang membuat
hatiku semakin berdebar tak menentu, ya, hari ini aku sidang meja hijau.
Pukul 08.00 sidang meja hijau pun
dimulai, semuanya berjalan dengan lancar dan diriku begitu leluasa menyampaikan
hasil penelitianku meski perlu mengatur luar biasa hatiku yang terus berdebar.
Aku tersenyum sumringah, karena sidang ku sukses. Aku melihat keluar pintu, dan
aku melihat teman baikku sedari tadi berdiri melihat penampilanku dan tersenyum
padaku.
Aku menghampirinya, “hai ami,
bagaimana penampilanku?”
arumi
: “wah, sepertinya kau terlihat sangat senang sekali, selamat ya atas
keberhasilanmu, penampilanmu sangat menarik, aku yang nggak kelar dengan berkas
skripsi jadi iri ngelihatnya”
mila
: “heei, kau tidak perlu iri, aku yakin kau juga akan cepat menyelesaikan
tugasmu, dan mencapai kebersihasilan yang lebih baik”
arumi:
“amiin”
mataku
mulai melirik sana dan sini, aku mencari seseorang, yang sedari tadi kutunggu
kedatangannya, tetapi tak ada terlihat, arumi yang melihat gerak-gerik ku
seperti tahu apa yang ku cari.
Arumi
: “ mila, apa yang kau cari? Apakah kau ingin menjumpai seseorang? Apakah adli?
Aku
mengangguki pertanyaannya
Arumi:
“mil, sebenarnya ada yang harus ku ceritakan padamu, ini tentang adli”
Mila:
“kenapa dia”
Arumi
mengeluarkan hp androidnya, dan membuka pesan dari bbm nya yang terlihat bahwa
kiriman pesan itu tertulis dari adli
Isi
pesan :
Arumi: “apa yang sedang kau pikirkan
adli”
Adli: “banyak, dan tak bisa ku
jelaskan padamu”
Arumi: “ jangan pikirakan banyak2 yang lain-lain,
cukup pikirin aja si mila”
Adli: “ kalau dia sich, gak perlu
dipikirin, karena emang dah masuk setiap saat di pikiranku”
Arumi : “ bagus donk, oh ya kamu
jadikan akan mengkhitbahnya setelah sidang mila selesai? sudah 2 tahun kau
memendam perasaanmu padanya, karena kau katakan bahwa jika wanita sholeha
seperti mila itu, baiknya langsung di kitbah, bukan di ajak main-main seperti
yang dilakukan orang yaitu pacaran dan kau juga tahu bahwa dia tidak mau pacaran,
Adli: “sepertinya aku harus membuang
mimpiku bersamanya, kau tahu aku harus menjauhinya karena penyakitku”
Aku
yang membacanya menjadi tersentak.. ada apa dengan adli? Apa yang iya derita?
Tanyaku pada arumi
Arumi:
“maafkan aku mil, harus merahasiakannya darimu, aku tak ingin kau menjadi
kecewa dengan harapan yang kau miliki dengan isi hatimu yang kau pendam selama
ini. Dia sebenarnya memiliki penyakit yaitu akan melupakan orang-orang yang dia
sayang, termasuk dirimu mil”
Mila:
“apakah maksudmu dia menderita penyakit sejenis Alzheimer”
Arumi:
“aku tak tahu pasti mil, karena dia hanya berkata akan lupa pada yang dia
sayang, kalau bukan yang dia sayang dia tetap ingat”
Mila:
“kenapa dia berpikir harus menjauhiku, kenapa tidak lebih dekat agar tetap
ingat padaku, apakah dia berpikir aku berharap dengan orang perfek, tidak ami,
aku hanya berharap ingin dengan orang yang perhatian padaku baik saat aku sedang
susah maupun senang, itu saja cukup.
Arumi:
“aku mengerti perasaaanmu mil, bersabarlah jika dia jodohmu Allah akan
mempertemukanmu dengannya”
Mila:
“apakah harus aku dulu yang mengungkapkan perasaanku dengan jelas dari mulutku
bukan dari sikapku padanya, apakah harus, agar dia tidak pergi dariku”
Arumi:
“apa yang kau pikirkan mila, istighfar, kenapa kau bersikap begini, mila yang
kukenal tak akan pernah berbuat sesuatu yang dibenci oleh Allah, serahkan
semuanya pada Allah mil, jika dia jodohmu maka dia akan datang padamu bukan
pergi dari mu dan menurutku dia itu pengecut, kenapa harus takut dengan
penyakitnya untuk bisa bersama dengan yang dicintainya, mil aku yakin kau akan
mendapatkan orang yang terbaik dan sholeh untukmu, aku yakin itu”
Sambil
terisak-isak, mila memeluk erat kawannya dan beristghfar, dan mengkuatkan
keyakinannya bahwa Allah akan berikan jalan yang tebaik untuk setiap hambanya
dan Allah akan memberikan jodoh yang terbaik untu setiap hambanya, karena tiada
cinta yang paling indah kecuali cinta Allah.
Namun setelah
kelulusanku Adli tidak menampakkan batanghidungnya sedikitpun padahal waktu itu
aku berharap setidaknya dia menampakkan batang hidungnya untukku meskipun untuk
yang terakhir kalinya.
Akkhirnya aku pun mendapatkan pekerjaanku yang sesuai
tidak menunggu lama ku mencari pekerjaan. Ternyata janji Allah itu benar bahwa
“DIa tidak akan menelantarkan orang-orang yang beriman”. Aku pun bersyukur atas
nikmatNYa.
Namun ada satu yang masih belum kugapai.
JODOH
Ya jodoh masih belum dapat kugapai hingga saat ini,umurku
telah hampir 24 tahun. Padahal rencanaku akau mau menikah pada umur 24 tahun.
Arumi : “Mila kau udah siap belum?”
Mila :”Sebentar
kayaknya aku ada kelupaan sesuatu”
Arumi : “Ya
ampun Mila kamu kok gak berubah dari zaman dinasaurus sih masih aja PELUPA”
Pergi, ya hari ini aku bersama teman baikku Arumi ingin
pergi mengikuti pengajian. Aku sebetulnya malas mau pergi ke pengajian itu
karena pematerinya tidak aku kenal, tapi kata orang-orang pemateri tersebut
sangat bagus, ceramahnya kena di hati dan juga motivator yang handal.
Sesampainya di tempat kami mengambil tempat duduk. Hmm
cukup banyak juga orang yang mengikuti pengajian ini, “apa memang betul ya apa
kata orang?”
Pada saat si pemateri memberikan materinya maka tanpa
sadar air mataku menetes dengan indahnya. Ternyata si Pematerinya ialah Adli.
Ya Adli tidak salah lagi. Sejak kapan dia menjadi penceramah memang kata dia
impian dia ialah ingin menjadi pembicara yang bias mengunnggah hati
orang-orang.
Arumi : “Mila!”
Mila : “Ya ada
apa Arumia?”
Arumi : “itu
Adlli kan?”
Mila : “Hmmm”
Ku hanya bisa menganngguk sedikit
Selesai Adli memberikan kata-katanya maka ada sesi
meminta tanda tangan, orang-orang sedari tadi sudah antri menunggu giliran.
Tinggal Aku dan Arumi yang belum.
Arumi : “Mila kita ikut juga yok siapa tahu dia masih
mengingatmu”
Tanpa menunggu persetujuanku Arumi menarik tanganku dan
langsung ikut antrian tepatnya di antri nomor paling AKHIR. Ya kami dapat no
paling akhir belum lagi panjang antriannay sudah mencapai 1 km.
Dengan sabar kami menunggu antrian. Sebenarnya dari tadi
hatiku ini selalu berdebartak menentu jujur aku belum bisa melupakan dia namun
‘APAKAH DIA MASIH MENGINGATKU?’.
Akhirnya sampai
juga giliran kami, hati ini berdebar kian tak menentu.
Arumi : “Ini
tolong tanda tangani buku ini!
Adli dengan sigap menandatangani buku tersebut.
Sekarang giliran aku.
Adli :”Maaf ukhti
dimana saya harus menandatangani?”
Arumi :”Apakah
bapak tidak mengenali kamia?”
Dengan penuh harap ku mendengar jawabannya ‘SEMOGA DIA MASIH MENGINGATKU’
Adli : “Maaf ukhti kalian siapa ya , saya tidak
mengenal kalian”
Trusss seakan disambar petir hati ini dia tidak mengingat
aku lagi ternyata penyakitnya memang betul. Aku sebenarnya ingin menangis keras
namun sebisa mungkin aku tahan.
Mila : “maaf kami
hanya iseng saja ni yang mau ditandatangani”
Arumi : “mila kamu
mau kemana?”
Sedari tadi Arumi memanggil-manggil aku namun tidak
kugubris hati ini telah teriris berkali-kali. Berkali-kali ku ini istigfar
namun berkali-kali bayangan kejadian tadi hingap ke pikiranku. Yang ada di
pikiranku sekarang aku mau menangis sejadi-jadinya sambil meminta kepada Allah
SWT untuk menenangkan hati ini.
‘Allahu Akbar
Allaahu Akbar’
Azan magrib berkumandang tanpa sadar aku tertidur di
sajadahku yang manis. Ya sajadahku yang telah mengawali hari-hariku. Dengan
langkah penuh gontai aku pergi kekamar mandi untuk mengambil wudhu.
Ku melakukan salat namun bayangan tadi selalu
menghampiriku. Tanpa sadar ku menangis di dalam shalatku hingga aku berdo’a
‘Ya Allah pemegang
dan pemilik hati ini,hamba tahu bahwa jodoh yang terbaik bagi hamba telah
Engkau persiapkan namun Engkau selalu memberikan cobaan untuk memberikan hadiah
yang paling indah. Mungkin Adli memang bukan jodoh hamba namun hamba mohon
tolong hamba ya Allah. Tolong hamba untuk melupakannya. Hati ini sudah terlalu
sakit ya Allah. Ya Allah memang dia bukan jodoh hamba namun kuatkanlah hati
hamba untuk melupakannya dan selalu menyebut namaMU ya Rabb.
Ya Allah KeputusanMU lebih baik,
untuk segalanya hamba serahkan semuanyapadaMu YA Rabb
Robbana Atina Fiddunya Khasanah
WafilAkhiraati Khasanah Waqina ‘Aja Bannar.’
Tanpa terasa
hatiku menjadi tentram dan sedikit demi sedikit kejadian tadi tidak menyakiti
hatiku lagi.
Mama : “Mila kamu
keluarya dari kamarmu jangan lupa memakai pakaian yang bagus ya”
Mila : “Memang ada
apa Umi?”
Mama : “Sudah turuti
aja apa kata Umi”
Huft dengan bersungut-sungut akupun mematuhi apa kata
Umi.
Mama : “Nah gini anak Umi cantik sekali”
Entah apa maksud umi aku pun bersama Umi pergi keruang
tamu namun hati ini sangat terkejut rupanya ada Adli disana ada apa gerangan.
Tiba-tiba bayangan kejadian tadi muncul’Ya
Allah kuatkanlah hati hamba ini’
Adli : “Adapun
maksud kedatangan saya hari ini untuk mengikat tali silaturrahmi bersama
keluarga anak ibu. Terus terang saya ingin mengkhitbah anak ibu”
Truss hati ini berdetak lebih cepat lagi. Apa maksud Adli
ingin mengkhitbahku bukannya dia tidak mengingatku lagi trus dari mana dia
dapat alamatku?. Hati ini hanya bisa beristigfar.
Mama : “Lah nak
Adli memang kenal sama anak saya?”
Adli : “Terus
terang bu saya tidak mengenali anak ibu”
Mama : “Lantas
darimana keyakinana nak Adli untuk mengkhitbah anak saya?”
Adli : “Saya
sebenarnya bingung ibu pada malam sebelumnya saya solat tahajjud ibu saya
meminta petunjuk tentang jodoh saya ibu. Siangnya sebelum saya memutuskan untuk
bercceramah tiba-tiba saya merasa saya akan menemukan jodoh saya dengan
petunjuk wanita yang memberikan alamatnya untuk saya tandatangani. Saya tidak
tahu kenapa ada firasaat itu namun saya hanya beristigfar ibu, maka pada saat
terakhit proses tandatangan tiba-tiba ada wanita memberikan alamatya untuk saya
tandatangani ibu. Di situlah saya terkejut ibu. Mungkin inilah petunjuk Allah
Maka dari itu saya bismillah untuk melamar anak Ibu.
Ya Rab.. Air mata menetes dengan indahnya
‘Sungguh RencanaMu
yang terbaik’
Aku tidak tahu
maksud semua ini tapi ini indah sekali Ya Rabb . aku pun mengcek tanda
tangannya ternyata benar itu rupanya berisi alamatku. Akhirnya aku teringat
Adli rupanya mempunyai otak yang cemerlang bahkan kami anggap jenius. Dia bisa
mengerti pelajaran yang paling sulit sekalipun dengan sedikit mempelajarinya.
Dia bisa membaca buku dengan cepat dan menghapalnya.
‘Sungguh Rencanamu
yang terbaik’
Mama : “Ya nak
Adli mungkin itu petunjuk Allah SWT namun bukan saya yang memutuskan namun anak
saya yang memutuskan bagaimana Mila kamu setuju?”
Aku tidak bisa berkata apa apa lagi aku hanya bisa
menangis, tersenyum, dan mengangguk pelan.
Alhamdulillah….. Adli dan Mama berucap hamper serempak.
Seketika itu aku ingat apa kata Adli dulu
‘ Wa Allaahu
yak’lamu wa antum la ta’lamun (QS ALbaqarah : 216)
Allah mengetahui sedang kamu tidak
mengetahui’