Monday, February 22, 2016

cerpen kau dan diriku

Karena Janji-Nya sangat indah
(Wa Allaahu yak’lamu wa antum la ta’lamun)

Ketika fajar menyonsong, matahari mulai menunjukkan dirinya, ayam berkokok bersaut-sautan, aku terbangun dari tidur ku yang lelap. Hari ini, aku terbangun lebih cepat dari sebelumnya, karena hari ini hari yang special bagiku dan amat penting bagiku.
            Aku mulai mempersiapkan diri untuk bergegas ke kampus, dari mulai pembersihan badan, bermolek diri dan lainnya, aku ingin terlihat sempurna hari ini.
            Pukul menunjukkan 07.30 wib, aku berangkat ke kampus, dengan hati yang sedari tadi berdebar tiada henti. Dengan menaiki bus, aku sampai dikampus.
            Aku memasuki ruangan yang membuat hatiku semakin berdebar tak menentu, ya, hari ini aku sidang meja hijau.
            Pukul 08.00 sidang meja hijau pun dimulai, semuanya berjalan dengan lancar dan diriku begitu leluasa menyampaikan hasil penelitianku meski perlu mengatur luar biasa hatiku yang terus berdebar. Aku tersenyum sumringah, karena sidang ku sukses. Aku melihat keluar pintu, dan aku melihat teman baikku sedari tadi berdiri melihat penampilanku dan tersenyum padaku.
            Aku menghampirinya, “hai ami, bagaimana penampilanku?”
arumi : “wah, sepertinya kau terlihat sangat senang sekali, selamat ya atas keberhasilanmu, penampilanmu sangat menarik, aku yang nggak kelar dengan berkas skripsi jadi iri ngelihatnya”
mila : “heei, kau tidak perlu iri, aku yakin kau juga akan cepat menyelesaikan tugasmu, dan mencapai kebersihasilan yang lebih baik”
arumi: “amiin”
mataku mulai melirik sana dan sini, aku mencari seseorang, yang sedari tadi kutunggu kedatangannya, tetapi tak ada terlihat, arumi yang melihat gerak-gerik ku seperti tahu apa yang ku cari.
Arumi : “ mila, apa yang kau cari? Apakah kau ingin menjumpai seseorang? Apakah adli?
Aku mengangguki pertanyaannya
Arumi: “mil, sebenarnya ada yang harus ku ceritakan padamu, ini tentang adli”
Mila: “kenapa dia”
Arumi mengeluarkan hp androidnya, dan membuka pesan dari bbm nya yang terlihat bahwa kiriman pesan itu tertulis dari adli
Isi pesan :
            Arumi: “apa yang sedang kau pikirkan adli”
            Adli: “banyak, dan tak bisa ku jelaskan padamu”
            Arumi:  “ jangan pikirakan banyak2 yang lain-lain, cukup pikirin aja si mila”
            Adli: “ kalau dia sich, gak perlu dipikirin, karena emang dah masuk setiap saat di pikiranku”
            Arumi : “ bagus donk, oh ya kamu jadikan akan mengkhitbahnya setelah sidang mila selesai? sudah 2 tahun kau memendam perasaanmu padanya, karena kau katakan bahwa jika wanita sholeha seperti mila itu, baiknya langsung di kitbah, bukan di ajak main-main seperti yang dilakukan orang yaitu pacaran dan kau juga tahu bahwa dia tidak mau pacaran,
            Adli: “sepertinya aku harus membuang mimpiku bersamanya, kau tahu aku harus menjauhinya karena penyakitku”
Aku yang membacanya menjadi tersentak.. ada apa dengan adli? Apa yang iya derita? Tanyaku pada arumi
Arumi: “maafkan aku mil, harus merahasiakannya darimu, aku tak ingin kau menjadi kecewa dengan harapan yang kau miliki dengan isi hatimu yang kau pendam selama ini. Dia sebenarnya memiliki penyakit yaitu akan melupakan orang-orang yang dia sayang, termasuk dirimu mil”
Mila: “apakah maksudmu dia menderita penyakit sejenis Alzheimer”
Arumi: “aku tak tahu pasti mil, karena dia hanya berkata akan lupa pada yang dia sayang, kalau bukan yang dia sayang dia tetap ingat”
Mila: “kenapa dia berpikir harus menjauhiku, kenapa tidak lebih dekat agar tetap ingat padaku, apakah dia berpikir aku berharap dengan orang perfek, tidak ami, aku hanya berharap ingin dengan orang yang perhatian padaku baik saat aku sedang susah maupun senang, itu saja cukup.
Arumi: “aku mengerti perasaaanmu mil, bersabarlah jika dia jodohmu Allah akan mempertemukanmu dengannya”
Mila: “apakah harus aku dulu yang mengungkapkan perasaanku dengan jelas dari mulutku bukan dari sikapku padanya, apakah harus, agar dia tidak pergi dariku”
Arumi: “apa yang kau pikirkan mila, istighfar, kenapa kau bersikap begini, mila yang kukenal tak akan pernah berbuat sesuatu yang dibenci oleh Allah, serahkan semuanya pada Allah mil, jika dia jodohmu maka dia akan datang padamu bukan pergi dari mu dan menurutku dia itu pengecut, kenapa harus takut dengan penyakitnya untuk bisa bersama dengan yang dicintainya, mil aku yakin kau akan mendapatkan orang yang terbaik dan sholeh untukmu, aku yakin itu”
Sambil terisak-isak, mila memeluk erat kawannya dan beristghfar, dan mengkuatkan keyakinannya bahwa Allah akan berikan jalan yang tebaik untuk setiap hambanya dan Allah akan memberikan jodoh yang terbaik untu setiap hambanya, karena tiada cinta yang paling indah kecuali cinta Allah.
Namun setelah kelulusanku Adli tidak menampakkan batanghidungnya sedikitpun padahal waktu itu aku berharap setidaknya dia menampakkan batang hidungnya untukku meskipun untuk yang terakhir kalinya.
            Akkhirnya aku pun mendapatkan pekerjaanku yang sesuai tidak menunggu lama ku mencari pekerjaan. Ternyata janji Allah itu benar bahwa “DIa tidak akan menelantarkan orang-orang yang beriman”. Aku pun bersyukur atas nikmatNYa.
            Namun ada satu yang masih belum kugapai.
            JODOH
            Ya jodoh masih belum dapat kugapai hingga saat ini,umurku telah hampir 24 tahun. Padahal rencanaku akau mau menikah pada umur 24 tahun.
            Arumi : “Mila kau udah siap belum?”
            Mila    :”Sebentar kayaknya aku ada kelupaan sesuatu”
            Arumi     : “Ya ampun Mila kamu kok gak berubah dari zaman dinasaurus sih masih aja PELUPA”
            Pergi, ya hari ini aku bersama teman baikku Arumi ingin pergi mengikuti pengajian. Aku sebetulnya malas mau pergi ke pengajian itu karena pematerinya tidak aku kenal, tapi kata orang-orang pemateri tersebut sangat bagus, ceramahnya kena di hati dan juga motivator yang handal.
            Sesampainya di tempat kami mengambil tempat duduk. Hmm cukup banyak juga orang yang mengikuti pengajian ini, “apa memang betul ya apa kata orang?”
            Pada saat si pemateri memberikan materinya maka tanpa sadar air mataku menetes dengan indahnya. Ternyata si Pematerinya ialah Adli. Ya Adli tidak salah lagi. Sejak kapan dia menjadi penceramah memang kata dia impian dia ialah ingin menjadi pembicara yang bias mengunnggah hati orang-orang.
            Arumi : “Mila!”
            Mila     : “Ya ada apa Arumia?”
            Arumi    : “itu Adlli kan?”
            Mila     : “Hmmm”
            Ku hanya bisa menganngguk sedikit
            Selesai Adli memberikan kata-katanya maka ada sesi meminta tanda tangan, orang-orang sedari tadi sudah antri menunggu giliran. Tinggal Aku dan Arumi yang belum.
            Arumi : “Mila kita ikut juga yok siapa tahu dia masih mengingatmu”
            Tanpa menunggu persetujuanku Arumi menarik tanganku dan langsung ikut antrian tepatnya di antri nomor paling AKHIR. Ya kami dapat no paling akhir belum lagi panjang antriannay sudah mencapai 1 km.
            Dengan sabar kami menunggu antrian. Sebenarnya dari tadi hatiku ini selalu berdebartak menentu jujur aku belum bisa melupakan dia namun ‘APAKAH DIA MASIH MENGINGATKU?’.
            Akhirnya sampai juga giliran kami, hati ini berdebar kian tak menentu.
            Arumi  : “Ini tolong tanda tangani buku ini!
            Adli dengan sigap menandatangani buku tersebut.
            Sekarang giliran aku.
            Adli   :”Maaf ukhti dimana saya harus menandatangani?”
            Arumi  :”Apakah bapak tidak mengenali kamia?”
            Dengan penuh harap ku mendengar jawabannya ‘SEMOGA DIA MASIH MENGINGATKU’
            Adli  : “Maaf ukhti kalian siapa ya , saya tidak mengenal kalian”
            Trusss seakan disambar petir hati ini dia tidak mengingat aku lagi ternyata penyakitnya memang betul. Aku sebenarnya ingin menangis keras namun sebisa mungkin aku tahan.
            Mila  : “maaf kami hanya iseng saja ni yang mau ditandatangani”
            Arumi  : “mila kamu mau kemana?”
            Sedari tadi Arumi memanggil-manggil aku namun tidak kugubris hati ini telah teriris berkali-kali. Berkali-kali ku ini istigfar namun berkali-kali bayangan kejadian tadi hingap ke pikiranku. Yang ada di pikiranku sekarang aku mau menangis sejadi-jadinya sambil meminta kepada Allah SWT untuk menenangkan hati ini.
            ‘Allahu Akbar Allaahu Akbar’           
            Azan magrib berkumandang tanpa sadar aku tertidur di sajadahku yang manis. Ya sajadahku yang telah mengawali hari-hariku. Dengan langkah penuh gontai aku pergi kekamar mandi untuk mengambil wudhu.
            Ku melakukan salat namun bayangan tadi selalu menghampiriku. Tanpa sadar ku menangis di dalam shalatku hingga aku berdo’a
            ‘Ya Allah pemegang dan pemilik hati ini,hamba tahu bahwa jodoh yang terbaik bagi hamba telah Engkau persiapkan namun Engkau selalu memberikan cobaan untuk memberikan hadiah yang paling indah. Mungkin Adli memang bukan jodoh hamba namun hamba mohon tolong hamba ya Allah. Tolong hamba untuk melupakannya. Hati ini sudah terlalu sakit ya Allah. Ya Allah memang dia bukan jodoh hamba namun kuatkanlah hati hamba untuk melupakannya dan selalu menyebut namaMU ya Rabb.
            Ya Allah KeputusanMU lebih baik, untuk segalanya hamba serahkan semuanyapadaMu YA Rabb
            Robbana Atina Fiddunya Khasanah WafilAkhiraati Khasanah Waqina ‘Aja Bannar.’
            Tanpa terasa hatiku menjadi tentram dan sedikit demi sedikit kejadian tadi tidak menyakiti hatiku lagi.
            Mama  : “Mila kamu keluarya dari kamarmu jangan lupa memakai pakaian yang bagus ya”
            Mila  : “Memang ada apa Umi?”
            Mama : “Sudah turuti  aja apa kata Umi”
            Huft dengan bersungut-sungut akupun mematuhi apa kata Umi.
            Mama : “Nah gini anak Umi cantik sekali”
            Entah apa maksud umi aku pun bersama Umi pergi keruang tamu namun hati ini sangat terkejut rupanya ada Adli disana ada apa gerangan. Tiba-tiba bayangan kejadian tadi muncul’Ya Allah kuatkanlah hati hamba ini’
            Adli : “Adapun maksud kedatangan saya hari ini untuk mengikat tali silaturrahmi bersama keluarga anak ibu. Terus terang saya ingin mengkhitbah anak ibu”
            Truss hati ini berdetak lebih cepat lagi. Apa maksud Adli ingin mengkhitbahku bukannya dia tidak mengingatku lagi trus dari mana dia dapat alamatku?. Hati ini hanya bisa beristigfar.
            Mama  : “Lah nak Adli memang kenal sama anak saya?”
            Adli     : “Terus terang bu saya tidak mengenali anak ibu”
            Mama  : “Lantas darimana keyakinana nak Adli untuk mengkhitbah anak saya?”
            Adli     : “Saya sebenarnya bingung ibu pada malam sebelumnya saya solat tahajjud ibu saya meminta petunjuk tentang jodoh saya ibu. Siangnya sebelum saya memutuskan untuk bercceramah tiba-tiba saya merasa saya akan menemukan jodoh saya dengan petunjuk wanita yang memberikan alamatnya untuk saya tandatangani. Saya tidak tahu kenapa ada firasaat itu namun saya hanya beristigfar ibu, maka pada saat terakhit proses tandatangan tiba-tiba ada wanita memberikan alamatya untuk saya tandatangani ibu. Di situlah saya terkejut ibu. Mungkin inilah petunjuk Allah Maka dari itu saya bismillah untuk melamar anak Ibu.
            Ya Rab.. Air mata menetes dengan indahnya
            ‘Sungguh RencanaMu yang terbaik’
            Aku tidak tahu maksud semua ini tapi ini indah sekali Ya Rabb . aku pun mengcek tanda tangannya ternyata benar itu rupanya berisi alamatku. Akhirnya aku teringat Adli rupanya mempunyai otak yang cemerlang bahkan kami anggap jenius. Dia bisa mengerti pelajaran yang paling sulit sekalipun dengan sedikit mempelajarinya. Dia bisa membaca buku dengan cepat dan menghapalnya.
            ‘Sungguh Rencanamu yang terbaik’
            Mama  : “Ya nak Adli mungkin itu petunjuk Allah SWT namun bukan saya yang memutuskan namun anak saya yang memutuskan bagaimana Mila kamu setuju?”
            Aku tidak bisa berkata apa apa lagi aku hanya bisa menangis, tersenyum, dan mengangguk pelan.
            Alhamdulillah….. Adli dan Mama berucap hamper serempak.
            Seketika itu aku ingat apa kata Adli dulu
            ‘ Wa Allaahu yak’lamu wa antum la ta’lamun (QS ALbaqarah : 216)

            Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui’